Sejarah Kota Pagaralam

Masyarakat Kota Pagar Alam menyebut diri mereka dengan Besemah. Nama Besemah dianggap lazim, sesuai kaidah bahasa lokal, dan lebih membangkitkam rasa 27 bangga akan identitas di masa lalu daripada nama Pasemah. Menurut Cik Olah3 , Pasemah merupakan nama pemberian Belanda untuk masyarakat yang bermukim di dataran tinggi ini, dikarenakan lidah mereka sulit melafalkan huruf „B‟ pada kata Besemah, sehingga dikatakanlah Pasemah. Tahun 2000-an nama Besemah mulai dimunculkan kembali oleh Pemkot Pagar Alam sebagai idenditas kebanggaan masyarakat. Ahli sejarah dan ahli arkeologi cenderung menggunakan nama Pasemah untuk merujuk suatu kawasan budaya megalit di Kota Pagar Alam ini. Penelusuran asal-usul secara pasti dari Suku Pasemah, hingga saat ini sangat sulit dibuktikan. Sumber yang ada berkaitan dengan cerita yang bersifat legenda (mitos) dan informasi dari budayawan lokal Kota Pagar Alam. Menurut mitos yang berasal dari cerita puyang (nenek moyang), Pasemah berasal dari nama Ikan Semah yang berada di aliran Sungai Lematang. Menurut budayawan Pagar Alam, Temenggung (tanpa tahun), Pasemah adalah sebuah budaya masa lampau yang dikaitkan dengan sejarah Ratu Atung Bungsu (keturunan Majapahit) yang dianggap sebagai orang pertama yang menduduki tanah ini. 

Di masa penjajahan Belanda, Orang Pasemah ikut berjuang melawan pendudukan ini hingga akhirnya dapat ditundukan. Johan Hanafiah budayawan Sumatra Selatan, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan Melawan Penjajah Abad 19, menyebutkan orang Pasemah memiliki sejarah perjuangan yang panjang di Sumatera Selatan, berlangsung hampir 50 tahun lamanya. Johan Hanafiah juga menyatakan bahwa pada awalnya orang-orang luas, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya orang-orang Pasemah. Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824) menyebutnya dengan Passumah. Dalam The British History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna (salah satu nama kota di bengkulu selatan) tahun 1797.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di daerah-daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan kematian-kematian karena penyakit cacar. Pemakaian nama Passumah sebagaimana digunakan oleh orang Inggris tersebut rupanya sudah pernah pula muncul pada laporan orang Portugis jauh sebelumnya.

Nama Pasemah yang kini dikenal sebetulnya adalah lebih karena kesalahan pengucapan orang Belanda, demikian menurut Mohammad Saman seorang budayawan dan sesepuh besemah. Adapun pengucapan yang benar adalah Besemah sebagaimana masih digunakan oleh penduduk yang bermukim di Pagaralam Suku Besemah, yang sering disebut sebagai suku yang suka damai tetapi juga suka perang (Vrijheid lievende en oorlogzuchtige bergbewoners) adalah suku penting yang terdapat di Sumatera Selatan. Pada zaman sebelum Masehi (SM), pada peta yang dibuat oleh Muhammad Yamin, belum tampak nama suku-suku lain yang tercantum, kecuali suku Besemah. Local Jenius Suku Besemah, sebagai salah satu pemilik kebudayaan Megalitikum, disebut suku yang memiliki local genius. Tetapi sayang, tidak diwariskan kepada anak-cucu (keturunannya).

Mengenai asal-usul suku Besemah, hingga saat ini masih diliputi kabut rahasia. Yang ada hanyalah cerita-cerita yang bersifat legenda atau mitos, yaitu mitos Atung Bungsu, yang merupakan salah satu di antara 7 orang anak ratu (= raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling.

Atung Bungsu menikah dengan putri Ratu Benua Keling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melalui keturunannya :

Bujang Jawe (Puyang Diwate),
Puyang Mandulike,
Puyang Sake Semenung,
Puyang Sake Sepadi,
Puyang Sake Seratus,
dan Puyang Sake Seketi
yang menjadikan penduduk Jagat Besemah. Cerita tentang asal-usul suku Besemah sangat mistis, irasional, dan sukar dipercaya kebenarannya. Masalahnya bukan persoalan benar atau salah, dipercaya atau tidak, akan tetapi unsur yang sangat penting dalam mitos atau legenda adalah peran dan fungsinya sebagai pemersatu kehidupan suatu masyarakat (jeme Besemah). Mitos atau legenda ini dapat menjadi antisipasi disintegrasi kesatuan dan persatuan jeme Besemah di mana pun mereka berada. Hal ini sudah sudah tampak dalam beberapa dekade, terutama setelah pemerintahan marga dihapuskan (UU No.5 Tahun 1979). Perlu selalu ditanamkan perasaan dan keyakinan bahwa jeme Besemah itu (termasuk jeme Semende dan jeme Kisam) berasal dari satu keturunan BERDIRINYA DUSUN DI JAGAT BESEMAH Puyang Kunduran membuat dusun Masambulau (Ulu Manak) dan di kemudian hari anak-cucunya membuat dusun Gunungkerte, termasuk Sumbay Besak (Sumbay Besar), Puyang Keriye Beraim membuat dusun Gunungkaye, dan Sumur. Kemudian anak-cucu Keriye Beraim membuat dusun Talangtinggi dan Muarajauh (Ulu Lurah), Puyang Belirang membuat dusun Semahpure dan anak cucunya pindah pula membuat dusun di Ulu Manak. Puyang Raje Nyawe pindah pula membuat dusun Perdipe, Petani dan Pajarbulan.

Anak cucunya pindah pula membuat dusun Alundua, Sandarangin, Selibar, Rambaikace, Sukemerindu, Kutaraye, Babatan, Sadan, Nantigiri, Lubuksaung, Serambi, Bendaraji, Ulu Lintang Bangke, Singapure, Buluhlebar, Gunungliwat, Tanjungberingin, Ayikdingin, Muarasindang, Tebatbenawah, Rempasai, Karanganyar, semuanya masuk Sumbay Besak. Puyang Raje Nyawe pindah ke Semende, membuat dusun Pajarbulan.

Puyang Raje Nyawe kembali ke dusun Perdipe menyebarkan agama Islam dan adat istiadat perkawinan secara islami. Dari Semende banyak penduduk yang pindah keKisam dan masih banyak cerita mengenai pendirian dusun-dusun di Tanah Besemah ini.

Sistem Pemerintahan Tradisional Sistem pemerintahan tradisional di daerah Besemah disebut Lampik Empat Merdike Due yang dipimpin oleh kepala-kepala sumbay. Besemah waktu itu merupakan suatu republik yang paling demokratis. Tanggungjawab dan kesetiaan sangat ketat dibina oleh orang Besemah. Rasa solidaritas dan loyalitas yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan prajurit-prajurit Besemah dapat melakukan perlawanan terhadap Kolonialisme

Kelurahan Bangun Rejo terletak di Kota Pagaralam, sebuah daerah dengan luas 7.2 km2 yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Bangun Rejo adalah salah satu kelurahan yang berada di wilayah ini, dan menawarkan beragam keindahan alam serta kehidupan masyarakat yang ramah dan harmonis.

Layanan

Aduan dan saran

Perizinan

Pagaralam Smart Service

Kecamatan & Kelurahan

Keterbukaan Informasi

CCTV

Lowongan Kerja

Informasi

Serba Serbi

Info Nomor Penting

Website OPD

SPBE

Copyright ©2023 Bangun Rejo Kota Pagaralam, All rights Reserved